Sabtu, 28 Februari 2009

MENUNDA DUNIA UNTUK ALLAH

Menunda Dunia Untuk Allah

Ust.Yusuf Mansyur

Bagi saya, persoalan shalat adalah persoalan tauhid. Sebab tauhid kan sederhananya: Mengenal

Allah. Lalu bagaimana kualitas shalat kita, sebagaimana itulah kita bertauhid kepadanya. Memang

ada urusan lain di urusan shalat, tapi semua bermula dari sini... Dari shalat...

Perrmohonan maaf kepada para peserta sebab kemaren sempat kosong tidak ada materi. Alhamdulillah

pagi ini kita ketemu lagi. Insya Allah pembahasannya masih seputar shalat. Sebab buat saya, urusan

shalat itulah urusan tauhid.

Kemaren pagi jam 11 saya nemanin istri saya check-up kami punya baby di rumah sakit. Diberitahu

bahwa dokternya hanya sampe jam 13 saja. Alhamdulillah, urusan shalat nomor satu. Saya mengincar

pom bensin di menjelang Mal Puri. Di sana ada tempat shalat yang bersih. Saya belajar seperti ini.

Dan saya menyuarakan agar sebanyak-banyaknya orang juga begini. Betul-betul waspada di urusan

shalat. Dan alhamdulillah malah nyampe jam 12.40-an. Masih belum terlambat.

Nah, kadang suka timbul pikiran begini, shalat di sana saja dah. Takutnya telat. Ntar dokternya

malah pergi lagi. Akhirnya malah kadang terlambat semua mua. Datangnya juga terlambat. Dan sering

juga akhirnya shalat di akhir waktu. Saya menikmati benar mendahulukan Allah ini. Saya yakin, yang

punya jalan adalah Allah. Sehingga kalau mendahulukan Allah, niscaya jalanan akan dibuat lenggang

oleh Allah Pemilik Jalan.

Begitulah Saudara-saudaraku, peserta Kuliah Online. Percuma juga kita bicara Allah bila kemudian

urusan shalat kita berantakan. Persoalan shalat sebenernya dijadikan Kuliah Dasar tersendiri.

Namun, karena bagi saya ini persoalan yang mendasar, maka ia dijadikan sebagai bahagian dari

Kuliah Tauhid.

Kalau dilihat perilaku manusia-manusia di Indonesia ini, memang bertuhan namun sebenernya masih

perlu dipertanyakan lagi ketuhanannya. Sebab seperti ga kenal sama Allah. Contoh, di dalam pesta

perkawinan, wuh, soal shalat, kayak ga ketemu shalat tepat waktu di sini, kecuali segelintir saja.

Di mall, di perkantoran, di gedung-gedung, sedikit sekali yang betul-betul memerhatikan shalat

sebagai cerminan bertauhid yang benar.

Ok, sebagai kelanjutan bicara-bicara ini, mari kita lanjutkan pembahasan seputar shalat. Selamat

menikmati esai-esai pendek. Saya pilih juga cara penyajian dengan esai-esai pendek agar peserta

mudah mempelajari dan memahami. Juga mudah mendistribusikan lagi kepada yang lain sebagai

perpanjangan dakwah saya dan kawan-kawan. Amin.

Robbija ‘alnii muqiimash sholaah wa min dzurriyyatii, ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak

keturunanku sebagai orang-orang yang menegakkan shalat…

Ada hadiah dari Allah buat siapa saja yang mementingkan diri-Nya

Si A, membawa surat interview.

Dia ini orang yang terbiasa tepat waktu.

Ia gelisah. Sebab di surat interview itu, ia dipanggil jam 11.00. Jam yang rawan bagi dia.

Rawan apaan?

Rawan untuk tidak bisa mempersiapkan diri shalat tepat waktu.

Subhaanallaah! Padahal jam 11 kan masih jauh? Masih 1 jam menuju waktu shalat.

Iya. Itu kalo dia prediksi wawancara bisa berlangsung tepat waktu. Bagaimana kalau pewawancara

telat. Atau ia datang di urutan wawancara nomor ke sekian? Atau wawancara akan masih berlangsung

sedang waktu shalat sudah menjelang. Lihat ya, baru "sudah menjelang", bukan sudah datang.

Pikiran ini betul-betul mengganggu si A ini.

Tapi karena dia butuh pekerjaan, kemudian dia tetap memutuskan untuk datang.

Jam 11 kurang dia sudah sampai. Dia catatkan namanya untuk interview. Ternyata hanya dia seorang.

Aman nih.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata si penginterview dipanggil oleh direksi. Sampe jam 11.30-an ga

kunjung ada kejelasan apakah wawancara bisa dilaksanakan atau tidak, atau di jam berapa wawancara

bisa dilaksanakan.

Di mata si A ini, pertanyaan itu jelas ia jawab, atau bahasa lainnya, jawabannya jelas: Batal.

Betul: Batal.

Dia memilih tidak wawancara bila wawancara itu dilakukan di jam 12 lalu mengganggu jadual

shalatnya. Masya Allah.

"Mbak, saya izin dulu ya. Nanti saya balik lagi. Saya titip tas di sini," katanya kepada

resepsionis.

"Bawa aja tas nya. Emangnya mau kemana? Bapak sebentar lagi barangkali datang."

"Mau shalat dulu."

"Oh? Silahkan? Nanti saya beritahu Bapak."

Alhamdulillah, pikir si A. Kirain akan dimarahin. Ini malah dipersilahkan dan akan dibantu untuk

memberitahukan ke pewawancara. Alhamdulillah.

***

Sesampenya si A di ruang mushalla, belum ada orang. Sebab baru jam 11.50. saat itu, zuhur jam

12.08.

Kira-kira jam 12-an lewat, tapi belum datang saatnya azan, datang seorang bapak. Bersih wajahnya.

Berseri. Bapak ini sudah datang dalam keadaan berwudhu.. Ditemani oleh dua orang lagi di

sebelahnya. Juga dalam keadaan sudah berwudhu nampaknya. Sebab si A tidak melihat ada tanda-tanda

bekas air wudhu baru.

"Mas, bukan pegawai sini ya?" tanya salah satu dari yang tiga orang tersebut.

"Iya Pak"

"Eh, kemana yang azan? Koq belum azan nih?" cetus lagi yang satu, sambil melihat jam.

"Saya saja Pak yang azan," kata si A.

Dalam keadaan rapih baju dan celananya, dan dalam keadaan wangi, si A, azan. Ada rasa kebanggaan

di hatinya, bahwa dia bisa mengalahkan interview untuk dapat azan dan shalat zuhur berjamaah.

Berdirilah yang tiga orang tersebut, sambil menunggu azan selesai. Seolah-olah mereka mendampingi

si A ber-azan.

Selepas azan, si A tidak sempat lagi bicara-bicara dengan tiga orang tersebut. Sebab mushalla

sudah keburu ramai.

Hanya, selepas shalat ba ' diyah, pundaknya ditepuk oleh salah satu dari yang tiga. "Mas yang akan

diwawancara oleh saya ya?"

Kagetlah si A. Rupanya ia bersama-sama sang pewawancara. Satu shaf.

"Yang ngimamin shalat itu, Dirut kita," katanya datar. "Kita tunggu beliau selesai shalat sunnah.."

Singkat cerita, malah si A itu diajak makan siang bersama. Dua dari yang tiga, adalah direksi.

Sedang yang mewawancara pun nampaknya memiliki jabatan yang cukup tinggi di kantor tersebut.

Sungguh beruntung si A. Ia jaga shalatnya, malah Allah dudukkan dia dalam posisi yang sangat mulia

Bagaimana lalu dengan awawancaranya? Ya sudah tidak perlu diwawancara kali. Pertemuan di mushalla,

dan azannya si A, sudah menyelesaikan wawancara. Alhamdulillah, subhaanallaah.

Para Peserta Kuliah Online yang budiman, kalau kita hidup dalam aturan Allah, maka Allah akan

mengaturkan hal-hal yang terbaik buat kita. Allah Maha Mengendalikan dunia ini, dan DIA Maha

Mengetahui apa yang akan terjadi. Pintu rizki pun di tangan-Nya. Bukan di tangan siapa-siapa.

***

Memberi Jam yang Terbaik

Allah begitu baik sama kita.

Sedangkan kita??

Judul di atas bukan bermaksud memberi hadiah jam tangan. Bukan. Maksudnya, memberikan waktu

terbaik kita buat Allah. Tidak mudah loh menerapkan hal ini. Makanya, mintalah bantuan, bimbingan,

dan pertolongan Allah, agar bisa memberikan kepada Allah, waktu terbaik untuk-Nya.

Jadilah orang yang berbahagia, di mana ketika orang sedang sibuk-sibuknya, kita bisa memotong

menghadiahkan waktu yang berharga yang kita miliki, buat Allah. Bukankah sejatinya semua punya

Allah?

Berikut ini kira-kira waktu terbaik kita:

1. Waktu istirahat kita di pertengahan malam, di dua pertiga malam, dan atau di sepertiga malam.

Untuk bangun malam. Untuk ruku ' dan sujud, memuji Allah dan memohon pertolongan- Nya. Memohon

bimbingan-Nya agar kita tidak kelelahan dalam menjalani hidup ini. Agar anak-anak menjadi

anak-anak yang saleh salehah. Agar orang-orang tua kita panjang umur, sehat dan diampuni Allah.

Dan masih banyak lagi lah. Wuah, ini berat. Tidak sedikit yang tidak mampu mengorbankan waktu

tidurnya. Karena lelahnya mencari dunia, kita lalu tidak bisa bangun malam. Atau karena banyaknya

dunia yang di tangan kita, kita lalu berat untuk bangun malam. Suasana pun barangkali sedang

nyaman, tidak sedang bermasalah.

2. Waktu pagi. Ketika manusia langsung ngebut dengan pekerjaannya, dengan usahanya, dengan

kesibukannya, kita korbankan dulu barang sedikit untuk menegakkan shalat dhuha. Dan sebelumnya,

ketika manusia langsung berburu dunia, kita malah tahan dulu barang sebentar untuk menegakkan

shalat shubuh. Subhaanallaah. Kalau bisa shalat shubuhnya di masjid. Masya Allah. Kita ajak

anak-anak dan istri.

3. Jam zuhur. Jam sibuk-sibuknya. Traffic lagi tinggi-tingginya. Ketika pelanggan lagi

banyak-banyaknya, kita ridho meninggalkannya demi Yang Memiliki diri kita dengan seluruh

pemberian-Nya. Ga usah khawatir degan berkurangnya perniagaan. Lihat saja Mekkah dan madinah.

Ketika jam shalat, mereka tutup. Akhirnya apa? Allah malah memberikan international buyer, pembeli

internasional. Bukan sekedar local buyer.

4. Jam ashar. Jam ngantuk. Kita segarkan diri kita, dengan air wudhu. Kita segarkan batin kita,

jiwa kita, raga kita, dengan shalat ashar. Sungguh banyak kemuliaan bacaan-bacaan habis ashar.

Insya Allah akan saya banyak tulis di website.

5. Jam macet. Jam pulang. Banyak manusia yang terjebak di kemacetan, karena berburu pulang cepat.

Akhirnya tetap saja kemaleman karena memang macet. Kalau memang macet-macet juga, kenapa tidak

kita tunggu saja sampe maghrib usai. Atau syukur-syukur kita sekalian selesaikan isya, baru kita

pulang. Kalau tetap khawatir, misalkan pulang jam 5, maka jam 18 mampir ke masjid. Jalan lagi usai

maghrib. Lalu, mampir lagi jelang isya. Dan jalan lagi setelah shalat isya. Repot memang. Tapi

insya Allah yang begini ini yang kelak akan Allah istimewakan. Manusia mau lelah, mau cape. Tapi

kali ini cape dan lelahnya, buat Allah. Bukan seperti selama ini yang untuk dunianya, untuk

perutnya, untuk keseombongannya, untuk hawa nafsunya. Subhaanallaah.

***

Habis, Kita Digaji Beliau Sih...

Kita tidak pernah tahu dengan sungguh-sungguh darimana rizki kita berasal. Barangkali, karena

itulah kita jarang mengistimewakan Allah.

"Pak Helmy, ke ruang saya ya?", perintah bos besar, datar. Tanpa ada nada suruh cepat-cepat, dan

tidak ada juga perintah untuk bersegera. Perintahnya bener-bener datar.

Bos besar ngangkat telpon, dan menekan shortcut number yang tersambung ke ruangan Pak Helmy, dan

lalu bicara begitu: "Pak Helmy, ke ruang saya ya?".

Itupun dilakukan si bos besar ini tanpa menunggu jawaban dari Pak Helmy, apakah bisa atau tidak.

Dan bos besar pun tidak tahu juga barangkali siapa yang ngangkat telpon di ruangan Pak Helmy

tersebut. Apakah benar Pak Helmy, atau bukan?

Dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita jadi Pak Helmy, maka kita wajibkan diri kita untuk

menyegerakan diri ke ruangan bos besar. Kita lalu merapihkan diri, dan bahkan seperti sudah

menebak apa kemauan bos besar, kita ke ruangannya membawa data-data yang barangkali diperlukan,

supaya bos besar senang.

Kalau kita jadi Pak Helmy, umpama ternyata sekretaris ruangan Pak Helmy yang mengangkat telpon

itu, lalu kemudian si sekretaris ruangan itu lupa menyampaikan bahwa bos besar memanggil, maka

marahlah Pak Helmy, dan bersegeralah dia meminta maaf kepada bos besar seraya menyampaikan bahwa

dia salah.

Kalau kita ditegor orang, "Duuuh, segitunya kalo dipanggil bos?". Maka kita akan menjawab, "Ya

wajarlah. Sebab dia kan bos nya saya. Dia yang menggaji saya. Saya bekerja di perusahaan ini sebab

kebaikan dia".

Luar biasa. Begitu hebatnya "tauhid" kita kepada bos besar tersebut.

Lalu, bagaimana dengan panggilan Allah? Bagaimana keadaan hati kita? Bagaimana keadaan diri kita?

Bagaimana penampilan kita? Bagaimana sikap kita? Silahkan jawab sendiri. Masing-masing. Dengan

jawaban yang paling jujur dari sikap dan perilaku kita selama ini.

Semoga Allah menyayangi kita semua.

"Hidup bermanfaat untuk dunia berguna untuk akhirat"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar